// ----- Alamat Sumber artikel di atas postingan----- .breadcrumbs{ padding:5px 5px 5px 0; margin:0;font-size: 95%; line-height:1.4em; border-bottom:4px double #cadaef; } // ----- Related post ---------------------
 

Tafsir Surah Al-Baqarah ayat 28

 

Bagimanakah kamu dapat mengingkari Allah? Padahal dahulu kamu tidak bernyawa[42], lalu Dia menghidupkan kamu[43], kemudian Dia akan mematikan kamu, kemudian Dia akan menghidupkan kamu[44], kemudian kepada-Nya kamu akan dikembalikan[45].


[42] Amwat itu jamak dari mayyit yang berarti benda mati atau tidak bernyawa. Jadi kata itu dipakai untuk benda yang sebegitu jauh, belum punya nyawa dan pula untuk benda yang bernyawa, tetapi sekarang mati. Kata itu dipakai juga tentang orang yang sedang sekarat atau hampir mati, tetapi belum meninggal (lane).

[43] Hayat berarti, (1) daya tubuh, (2) daya rasa, (3) daya pikir, (4) kebebasan dari kesedihan atau kesusahan, (5) kehidupan kekal di akhirat, (6) laba atau keuntungan atau sarana untuk memperolehnya, (7) keadaan yang menunjukan kegiatan dan kekuasaan (Lane).

[44] Ayat ini menunjukan kepada kebenaran agung bahwa kehidupan manusia tidak berhenti dengan lenyapnya atau leburnya badan jasmaninya. Sebab hidup itu terlalu besar artinya untuk berakhir dengan kehancuran jasmani dan kematian. Jika hidup tidak mempunyai tujuan agung, niscaya Tuhan tidak akan menjadikannya, dan sesudah menjadikannya niscaya tidak akan membuatnya tunduk kepada maut, sekiranya kehidupan sesudah mati tidak ada. Jika mati berarti berakhirnya segala kehidupan maka dijadikannya manusia itu hanya "permainan dan pengisi waktu belaka" dan hal itu akan merupakan cela besar terhadap kebijaksanaan Tuhan. Kenyataan bahwa Tuhan, Sumber segala hikmah dan kecerdasan, telah melakukan semua itu menunjukan bahwa Tuhan tidak menjadikan manusia kembali menjadi debu sesudah melewati hidup 60 atau 70 tahun saja. Sebaliknya Tuhan telah menjadikannya untuk kehidupan lebih baik, lebih bersih, dan kekal yang harus dialami manusia sesudah ia meninggalkan wujud jasmaninya yang telah menjadi beban baginya.

[45] Sesudah mati, ruh manusia tidak akan segera masuk ke sorga atau neraka. Ada semacam keadaan peralihan yang disebut barzakh, tempat ruh manusia disuruh merasakan sekelumit hasil baik atau buruk perbuatannya, dan Hari Kebangkitan yang mempermaklumkan pembalasan penuh dan lengkap akan terjadi kemudian.

(Sumber: Al-Quran dengan Terjemahan dan Tafsir Singkat (Terbitan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, 1997), Edisi. III, Juz. 1-10, Hal. 37-38)

0 komentar:

Poskan Komentar